Euthanasia tudak dibolehkan di INDONESIA

Published 14 Desember 2011 by devi merry

Kepala Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo dr. Merdiast Al Matsier, mengatakan permintaan keluarga pasien Nyonya Agian agar, yang meminta euthanasia, tidak dapat dilakukan. “Di Indonesia euthanasia tidak dibenarkan dalam etika dokter juga dalam hukum,” tandas Merdiast dalam konferensi pers, Rabu (22/9).

Menurut Merdiast, dalam kode etik kedokteran, nyawa manusia harus dihargai. “Sedangkan di beberapa negara barat euthanasia dapat dilakukan lewat pertimbangan pengadilan, sedangkan di Indonesia tidak diperbolehkan karena tidak ada hukumnya,” tandas Merdiast.

Sementara itu, dr. Budi Sampurno, ahli forensik dan euthanasia menjelaskan, setidaknya ada dua tipe euthanasia, yakni yang pasif dan aktif. Aktif artinya memang sengaja dilakukan sesuatu agar pasien meninggal. Sedangkan pasif tidak dilakukan apapun sehingga pasien tersebut meninggal. “Keduanya tetap tidak diperbolehkan di Indonesia,” kata Budi.

Menurut Budi, euthanasia dilakukan dengan memperhatikan beberapa kriteria, diantaranya adalah kondisi pasien pada fase terminal atau fase akhir penyakit sehingga tidak mungkin diobati, pasien mengalami penderitaan atau kesakitan yang hebat, dan ada permintaan dari pasien ataupun keluarganya. Jika alasan tersebut tidak ada, maka tidak dapat dilakukan euthanasia.
contoh kasus euthanasia di INDONESIA
Di Indonesia sendiri, setelah kasus Ny Agian Isna Nauli Siregar mulai “pudar” dari publikasi media, seiring dengan kondisi kesehatannya yang kini kian membaik, sebenarnya ada kasus paling gres yang membuat publik Indonesia kembali gempar, menyusul permohonan euthanasia yang diajukanoleh suami Ny Siti Zulaeha, Rudi Hartono, ke PN Jakarta Pusat.
Menurut Rudi Hartono, selama tiga bulan terakhir istrinya sudah tidak bisa berkomunikasi, fungsi kesadarannya rendah, dan bahkan motoriknya hanya berfungsi sedikit, sehingga secara medis tidak bisa disembuhkan. Karena itu, atas nama “kasih sayang” seorang suami yang tidak ingin melihat istrinya lebih lama menderita, ditambah lagi dengan biaya yang kian membengkak, ia pun memberanikan diri untuk meminta penetapan izin euthanasia dari PN Jakarta Pusat.
Tampaknya, permohonan Rudi Hartono akan sia-sia dan bernasib serupa dengan permohonan Panca Kusuma yang lebih dahulu ditolak oleh pengadilan ketika ia ingin meng-euthanasia-kan istrinya, Ny Agian. Sebab, secara yuridis-formal, hukum di Indonesia tidak mengizinkan euthanasia. Pasal 334 KUHP menyebutkan, barang siapa merampas nyawa orang lain atas permintaan sendiri bisa diancam hukuman penjara selama 12 tahun.
Disamping itu, secara sosiologis, merampas nyawa orang berdasarkan kemauan sendiri juga melanggar hak asasi manusia. Ini sebagaimana diatur pada Tap MPR No XVII/MPR/1998 dan Amandemen UUD 45 Pasal 28 a. Terlebih, bila ditinjau dari sudut agama, sebagaimana fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI), bahwa euthanasia hukumnya haram.
Pertanyaannya, benarkah dalam perspektif hukum Islam praktik euthanasia itu diharamkan? Sejauhmana argumentasinya? Mungkinkah hukum haram ini bergeser menjadi mubah (boleh), misalnya, karena alasan-alasan tertentu yang bisa dibenarkan oleh syara’? Inilah fokus kajian tulisan ini, sekaligus sebagai catatan tambahan atas dua tulisan di rubrik “Teropong”, yang menurut hemat saya, belum sama sekali mengupas perspektif hukum Islam tentang euthanasia.

One comment on “Euthanasia tudak dibolehkan di INDONESIA

  • Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s

    %d blogger menyukai ini: